Pot adalah media atau tempat untuk menanam
tumbuhan tertentu, saya katakan ‘tertentu’ karena sangat aneh bila kita
bercocok tanam Jati Super menggunakan pot atau polibag. Tanaman yang menggunakan
pot biasanya bunga dan tanaman hias, atau tetumbuhan yang memiliki akar kecil. Tanaman-tanaman
yang di dalam pot biasanya tidak permanen, sering dipindah ke tempat lain atau
kadang diganti dengan tanaman lain. Pot mencerminkan keterbatasan ruang dan
waktu sekaligus kondisi berpindah-pindah.
Oyot adalah bahasa jawa dari akar. Sedangkan akar
menurut ilmu biologi adalah salah satu organ tumbuhan yang berfungsi menyerap
air, garam dan mineral-mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Gerak akar
biasanya menjahi sinar matahari dan udara, dia akan terus menghujam inti bumi
atau sumber air. Terdiri dari korteks, epidermis, edodermis dan stele. Info lain
terkait akar silahkan diperdalami bersama Prof. Google.
Dari kata benda ‘oyot’ orang jawa lantas
meng-upgradenya menjadi kata kerja (mboh ding, mungkin malah kata sifat)
‘ngoyot’, kata itu bisa diartikan sebagai kondisi seseorang yang menetap di
suatu tempat dan enggan pergi ke tempat lain. Oyot mencerminkan sebuah kondisi
yang permanen di suatu tempat tertentu, sekaligus keberadaannya benar-benar
menjadi urgent di tempat itu.
Istilah di atas bukan hal pakem dalam ilmu bahasa J, kata-kata muncul ketika saya
melihat kembali perjalanan dan pengembaraan 5 tahun terakhir pasca lulus dari bangku
plus meja kuliah di Darrasah-Kairo. Tentang bagaimana seharusnya saya
menetap dan mengambil peran.
Diawali dari kelulusan di al-Azhar-Kairo. Ketika
lulus kebetulan ada beberapa ribu SAR (Saudi Arabian Real) yang kalau di
IDR-kan menjadi belasan jetong. Dengan uang sisa Temus itu awalnya ingin
melanjutkan studi S2 di American Open atau Zamalek, bukan di kampus yang sama. Karena
magister al-Azhar sudah terlalu mainstream (baca: mengerikan J ). Perasaan ingin menetap lebih
lama lagi di Mesir juga karena didasari keinginan berkarir di bidang lain. Niat
kuat sudah ditambat, sudah memesan tiket return, tetapi karena beberapa
kendala penyedia tiket, akhirnya tiket return pun tidak jadi di dapat,
alhamdulillah tidak ada kerugian.
Di kairo saya hanya berada di dalam pot, saya
hanya bersemai beberapa waktu saja, dan tumbuhan bernama Muhammad Amin Rois, Lc.
kembali ke pangkuan ibu pertiwi, tanpa berpikir kembali ke Kairo lagi.
Akhirnya saya menuju timur, kembali ke negara Anda,
Indonesia. Sampai di Indonesia sebenarnya sudah ada gangster yang melobi orang
tua agar anak ragil lelakinya ini bisa membersamai mereka di sebuah pondok yang
terletak di Kabupaten paling timur dari Jateng, Sragentina. Tepatnya di Ponpes
Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen a.k.a DIMSA. Lobi itu sudah beberapa kali
dilakukan sejak saya masih di Kairo. Singkat cerita, akhirnya saya pun bertemu
orang-orang dekat, baik, kompak, perhatian dan sifat-sifat lain yang, kalau
dipelajaran PPKN masuk sub-bab Akhlak Terpuji J.
Genap 2 tahun sejak pertengahan2012-pertengahan2014
saya menjadi orang sragen. Akrab dengan kuliner ala perbatasan Jateng-Jatim,
akrab dengan istilah-istilah jawa yang baru saya dengar seperti; bacin, mboyak,
mbathu dan lain sebagainya. Lagi-lagi saya di Sragen sebagai tumbuhan yang
hanya di pot, tidak bertahan lama dalam persemaian hingga akhir pindah lagi ke
kampung asal, Kadirojo.
Kadirojo adalah dusun, Papringan adalah desa,
Kaliwungu adalah kecamatan baru, dan Semarang(Mbiyen)KalineBanjir adalah
kabupatennya. Sejak saat itu rute pacu Verza150cc melintasi beberapa kabupaten;
Semarang-Boyolali-Sukoharjo-Karanganyar. Agak mirip dengan lintasan PO. Sugeng
Rahayu maupun PO. Mira.
Di Semarang ada sekolah bernama MA IT Nurul
Islam, tepatnya di kecamatan Tengaran, setiap akhir pekan selama 1 tahun ajar
atau 2 semester, saya mengajar di sana. Membersamai first generation dan
second generation MA IT di mapel Akidah. Selanjutnya sambil berakhir
pekan di sekolah, saya menjajal dunia penerbitan buku di Ziyad Visi Media,
terletak di Banyuanyar, Banyuanyar Surakarta. Dan sampai saat ini masih
berkutat dengan dunia EjaanYangDisempurnakan sebagai Editor dan Lini al-Qur`an.
Entahlah sampai kapan, apakah sudah waktunya untuk ngoyot di tempat tertentu,
atau masih memungkinkan babat alas di tanah baru dengan atmosfer yang juga
baru. Wallahu al-Musta’an.
0 comments:
Post a Comment